Home > Indonesian > Extension Course > Activities > Related texts > The search for personal fulfillment: Related texts
Rani merasa hidupnya tidak bahagia. Ketut, sang suami, tidak mengerti dia, sehingga Rani merasa kehilangan kebebasan bahkan dirinya sendiri.
Cerita Rani
Rani masuk ke ruang konsultasi dengan muka sedih. “Selama ini saya sudah mencoba bersikap sabar, Bu. Sudah 4 tahun saya menjadi ibu rumah tangga. Sebelum menikah, saya bekerja di bank. Sesudah kawin dan mendapat seorang anak, saya tinggal di rumah saja.“
Rina kemudian bercerita tentang suaminya waktu pertama kali bertemu. “Saya berkenalan dengan Ketut di tempat kerja, sesudah berpacaran selama 6 bulan, kami menikah. Saya tahu masa pacaran saya terlalu pendek.Setelah menikah, saya masih bekerja. Tetapi 3 bulan setelah pernikahan, kami mulai sering bertengkar. Topiknya macam-macam, mulai dari rumah yang tidak beres sampai siapa teman-teman di kantor. Saya juga merasa seperti diinterogasi oleh ‘polisi’ setiap hari, apa yang saya lakukan di kantor, makan siang di mana dan lain-lain.“
“Waktu saya hamil, saya berhenti bekerja. Sekarang anak kami sudah berumur 3 tahun. Rasanya bosan saya di rumah setiap hari. Saya merasa tidak mempunyai teman dan tidak bisa bersosialisasi.“
“Karena saya tidak bekerja lagi, Ketut memang tidak meributkan soal teman sekantor lagi, tetapi dia melarang saya untuk berhubungan dengan teman-teman saya di SMA dulu. Saya tidak boleh pergi sendiri, kecuali dengan anak atau dengan dia. Kalau saya bertemu dengan teman laki-laki, pasti ekspresi Ketut jadi tidak ramah. Dan sesudah itu saya akan ditanya panjang lebar. Akibatnya, saya malas bertemu dengan teman-teman saya dulu. Tidak hanya dengan teman lama, saya juga menjadi malas bergaul dengan ibu-ibu yang tinggal di dekat kompleks rumah kami. Saya dulu tidak seperti itu, saya adalah gadis periang dan suka bergaul“.
“Kalau saya bertanya mengapa dia bersikap begitu, Ketut akan menjawab ‘Mengapa kamu tidak pernah puas dengan keadaanmu? Semua sudah saya penuhi’. Memang dari segi materi, tidak ada yang kurang. Tapi saya merasa tidak punya kebebasan sama sekali, seperti burung di dalam sangkar saja.”
“Akhir-akhir ini kami sering berkelahi dan cekcok mulut. Saya dianggap sebagai istri yang suka membantah. Dia juga sangat emosional. Kalau sedang marah, bicaranya kasar sekali.“
“Saya iri dengan perempuan-perempuan yang bekerja. Saya sering memakai seragam kerja saya dulu di kamar. Saya kangen banget untuk memakainya lagi! Saya perlu privacy dan kebebasan untuk diri sendiri, saya ingin punya uang sendiri,tidak hanya diberi oleh suami” kata Rani dengan sedih.
Cerita Ketut
“Menurut saya, Rani tidak bisa menjadi istri yang menerima keadaannya. Sebagai ibu rumah tangga, dia seharusnya berada di rumah. Semua gaji saya berikan kepadanya. Apa yang dicarinya? Ia sepertinya ingin bebas keluar rumah, bergaul dengan teman-temannya seperti waktu sebelum menikah. Buat apa sih uang banyak kalau keluarga berantakan?” kata Ketut dengan suara keras.
“Menurut saya, permintaan Rani banyak sekali dan mahal-mahal. Contohnya, meski ia hanya di rumah, tapi ia ingin punya ponsel dengan model yang terbaru. Akhir-akhir ini ia selalu berkata untuk minta bekerja lagi. Malah ia sempat melamar pekerjaan tanpa memberitahu saya. Tentu saja saya marah besar. Karena menurut saya ia tidak perlu bekerja. Kalau bertengkar, dia selalu bilang ‘ingin bebas’. Saya pikir, kalau ingin bebas, jangan menikah. Istri kan harus menurut pada suami. Dia tidak menghargai saya sebagai kepala keluarga,” kata Ketut lagi dengan suara tinggi.
“Saya pencemburu? Mungkin juga. Rani orangnya terlalu ramah. Yang jelas, saya tidak bisa mempercayainya keluar rumah sendiri. Memang belum ada skandal yang terdengar, tapi sebelum itu terjadi, lebih baik saya menjaganya,kan?” kata Ketut dengan bangga.
“Sebenarnya saya tidak melarangnya untuk bergaul dengan ibu-ibu di kompleks. Tapi kelihatannya ia tidak tertarik dengan komunitas di kompleks. Mungkin ia hanya mau bergaul dengan orang-orang yang bekerja.”
“Saya suka emosional? Bagaimana tidak? Kalau saya marah, ia pasti menjawab atau membantah. Sifat saya ini mungkin dipengaruhi pengalaman hidup saya sejak kecil. Saya diasuh oleh kakek-nenek. Sejak kecil saya memang dimanja dan jadi pusat perhatian. Segalanya beres, dan saya kurang senang kalau ada hal-hal yang tidak rapi. Rani tidak membantu saya, tetapi malah membuat saya selalu marah.”
Copied under part VB
http://www.ayahbunda-online.com/info_ayahbunda/info_detail.asp?id="Istri&info_id=141 ![]()
(accessed on 26 May 2008)
| bahagia | happy |
| bahkan | even, moreover |
| berantakan | messy |
| bersikap sabar | to have patience |
| cekcok mulut | to quarrel |
| dianggap | to be viewed |
| diasuh | to be brought up |
| dimanjakan | being spoiled |
| hamil | pregnant |
| ibu rumah tangga | housewife |
| iri | jealous |
| kasar | rude |
| kehilangan kebebasan | to lose freedom |
| membantah | to back chat |
| menurut | to obey |
| meributkan | to make a fuss about |
| muka sedih | sad face |
| panjang lebar | in detail |
| pencemburu | jealous person |
| periang | cheerful person |
| ponsel | mobile phone |
| pusat perhatian | centre of attention |
| sangkar | cage |
| segi materi | material aspect |
| sering bertengkar | often quarrel |
| tidak beres | unsettled, not in order |
Activity 1
Answer these questions in English
Activity 2
Write approximately 300 words in Indonesian in response to the text.
Bayangkan Anda seorang konselor. Tulislah naskah salah satu sesi Anda dengan Rani/Ketut.
Imagine you are a counsellor. Write the script of one of your sessions with Rani or Ketut.