Home > Indonesian > Extension Course > Activities > Related texts > The search for personal fulfillment: Related texts
Cita-cita saya sejak dulu saya ingin jadi pengusaha. Ini saya wujudkan tiga tahun lalu dengan membuka usaha percetakan. Pada awalnya, saya buka usaha ini karena berkaitan dengan bidang pekerjaan istri saya, Vina, yaitu disain grafis. Saya hanya merasa punya bakat di bidang grafis, lalu saya belajar dari istri saya.
Bila usaha ini ingin berkembang baik, tentu harus dikerjakan sungguh-sungguh dan tekun. Usaha ini mulai saya jalankan setelah anak-anak hadir dalam perkawinan kami. Karenanya, saya berprinsip anak-anak tak boleh terabaikan. Di sisi lain saya juga punya rencana jangka panjang tentang usaha ini karena prospeknya sangat baik.
Usaha ini memang sangat menyita waktu. Saya sering sampai di rumah pukul 10 malam. Namun sebagai ayah, tentu saja, tugas saya tidak cuma bekerja. Anak-anak saya, Nono (5,5 tahun) dan Nadia (3,5 tahun) butuh saya sebagai ayah, yang membantu mereka menemukan diri dan membentuk watak mereka.
Karena waktu yang paling memungkinkan adalah pagi hari, saya maksimalkan saat itu untuk anak-anak. Saya bangunkan anak-anak untuk berdoa bersama dan membaca Alkitab. Setelah itu saya mandikan mereka, sambil bertanya apa saja yang mereka lakukan kemarin.
Nono, yang bersekolah di TK, seringkali lupa apa yang ia pelajari di sekolah. Pada waktu pagi itu, saya sempatkan mengingatkan mereka agar pada hari itu bersikap baik, sopan dan jujur. Itu sebabnya saya tidak menyerahkan acara mandi pagi anak-anak pada pengasuh mereka.
Saya dan Vina tidak pernah ada kesepakatan khusus tentang urusan anak. Kami berdua sama-sama bekerja, saling melengkapi saja dalam pengasuhan anak. Ketika anak-anak sakit, misalnya, karena waktu saya lebih fleksibel, saya bisa mengantar mereka ke dokter. Tetapi bila anak-anak sakit cukup parah, ya … realistis saja, dalam keadaan sakit anak-anak selalu mencari ibunya. Saat itu istri saya memutuskan tinggal di rumah menemani dan merawat mereka.
Bagi saya, keluarga itu tempat saya melepas lelah. Kejenuhan dan keletihan di tempat kerja hilang ketika saya bertemu istri dan anak-anak.
Hari Sabtu dan Minggu, ponsel selalu saya matikan. Tidak ada perjanjian kerja pada hari-hari itu. Tidak ada juga pekerjaan yang saya bawa pulang ke rumah. Mungkin orang menilai saya menyia-nyiakan peluang. Tetapi pada kenyataannya pekerjaan saya tak ada habisnya. Menjalin kerja sama dengan pihak lain bisa dilakukan di hari kerja, tidak perlu mengambil waktu keluarga saya.
| acara mandi pagi | the daily ritual of the morning shower |
| bakat | talent |
| berdoa bersama | pray together |
| berkaitan | regarding/involving |
| berkembang baik | well developed |
| cukup parah | quite serious |
| kejenuhan | the humdrum routine |
| keletihan | tiredness |
| kesepakatan | agreement |
| melepas lelah | to relieve tiredness |
| membaca Alkitab | to read the Bible |
| membentuk watak | to shape a character |
| memisahkan | to separate |
| menemukan diri | to find their identity |
| menjalin | to build |
| menyia-nyiakan peluang | to waste an opportunity |
| menyita waktu | to take up time |
| pengasuh | carer |
| pengusaha | businessman |
| perjanjian kerja | work appointment |
| rencana jangka panjang | long term plan |
| sungguh-sungguh dan tekun | seriously and diligently |
| terabaikan | to be neglected |
| tidak menyerahkan | not to give in to |
| usaha percetakan | printing business |
| wujudkan | to realise/to make come true |
Activity 1
Answer these questions in English
Activity 2
Give your opinion on the statements below.