Home > Indonesian > Continuers' Course > Indonesian-Speaking Communities > Cultural Diversity > Cultural diversity: sample reading tasks
Task 1
Peryaan Hari Natal di Indonesia
(reading & responding, type A)
Task 2
Response to a letter (reading & responding, type B)
Read the following text and answer in English the questions which follow.
Kebanyakan orang Indonesia yang beragama Islam tidak merayakan Hari Natal, terutama di desa-desa. Di kota-kota yang lebih besar, seperti Semarang misalnya, ada banyak spanduk Natal, Pohon Natal dan Sinterklas di dalam toserba (toko serba ada). Kartu Natal dijual di pusat perbelanjaan dan toserba.
Kebanyakan toko dan kantor tertutup pada hari ini karena Hari Natal adalah hari raya nasional di Indonesia. Menjelang Hari Natal, harga barang, bahan makanan, kartu Natal dan ongkos potong rambut naik.
Pagi-pagi sekali pada pukul empat, saat Natal, orang Kristen di Salatiga pergi ke lapangan Pancasila untuk merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Karena hari masih gelap mereka duduk di tikar-tikar dan memegang lilin supaya mereka dapat melihat kitabnya. Lampu warna-warni dan hiasan yang lain tergantung dari pohon-pohon. Bukan main indahnya. Pemandangan Gunung Merbabu pada waktu matahari terbit kelihatan bertambah indah.
Sesudah kebaktian ini, semua orang menyanyikan "Bunyi Bel" yang diiringi dengan suara suling lalu saling mengucapkan "Selamat Hari Natal" sambil bersalaman.
Questions
Read the following passage and then respond in Indonesian.
Imagine that you are living with a Moslem family while on exchange in Indonesia. Write a journal entry of 150-200 words describing your experience of Ramadan and Lebaran.
Bukan main riang gembira hati Puspita dan adiknya, Agus. Hari Lebaran yang dinanti-nantikan sudah tiba. Di mana-mana terdengar suara takbir, "Allahuakbar... Allahuakbar..." Semalaman mereka berdua tidak dapat memejamkan mata karena menunggu datangnya hari berikutnya. Mereka ingin segera mengenakan baju baru. Lalu bersama Ibu dan Ayah pergi ke tanah lapang untuk bersembahyang.
Satu bulan lamanya umat Islam berpuasa. Selama itu mereka tidak boleh makan dan minum mulai fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Oleh karena itu kewajiban agama, maka semuanya harus menjalankan ibadah puasa. Tidak terkecuali Puspita dan Agus. Mereka keduanya sudah menjalankan ibadah puasa.
Selama bulan puasa mereka juga pergi ke sekolah, belajar mengaji, dan membantu orang tua di rumah. Setiap sore, Puspita dan Agus membantu ibu di dapur menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Bahkan dua hari menjelang Lebaran ini keduanya membantu ibu membuat kue sampai tengah malam.
Sesudah mendengarkan khotbah Idul Fitri yang cukup panjang, mereka pulang ke rumah. Setibanya di rumah ayah dan ibu berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Kemudian Puspita dan Agus menyusul menjabat tangan kedua orang tuanya. Kata Agus "Selamat hari Raya Idul Fitri, ayah dan ibu. Agus mohon maaf kalau selama ini Agus banyak berbuat yang salah." Kata Puspita "Maafkan, ayah dan ibu. Maafkan saya"
Tidak lama sesudahnya ada tamu yang datang. Puspita dan Agus menghidangkan minuman dan kue-kue. Lalu keduanya pun berjabat tangan dengan tamu itu. "Maaf Lahir Batin" katanya.
Puspita dan Agus merasa tidak sabar lagi menunggu tamu-tamu itu pulang. Mereka berdua ingin segera berangkat ke rumah kakek dan neneknya. Mereka mau makan ketupat dan opor ayam yang dimasak oleh neneknya!